Apr
23
2007
Duh, duh, sempat beberapa hari sakit kepala sebelah alias migren ( migrain ). Berbagai ide dan pengaturan pekerjaan yang ingin dilakukan seperti menumpuk *BRUK* begitu saja di otak kiri. Tetapi untunglah, cerita-cerita nostalgia tentang masa lalu sewaktu sekolah dengan beberapa teman yang aku temui bisa memberikan sedikit kesegaran di otak. Ngobrol, kumpul-kumpul yang positif sambil bernostalgia ternyata bisa meredakan energi negatif yang menempel :)).
Tapi yang rada membuatku prihatin dan bersimpati, seorang teman, kita sebut saja namanya Gembol mengalami beban kerja yang berlebihan. Menurut hematku hal ini justru membuat pekerjaan menjadi tidak efesien, dan hak-hak nya terampas. Apa yang menjadi kewajibannya sudah melewati batas. Sabar aja ya Mbol, tetap semangat, dan jaga kesehatan.
Apr
23
2007
Coba kita bayangkan ketika sebuah informasi yang kita terima salah akan mengakibatkan tindakan dan persepsi yang salah pula. Hal ini lah yang mendasari propaganda penyiaran baik itu secara audio maupun visual. Iklan, berita, sinetron, film baik yang berbentuk analog maupun digital. Teknologi memang tidak bisa dibendung karena akan berkembang seiring dengan peningkatan pola pikir dan hasil riset dari para produsen teknologi itu sendiri dan permintaan pasar. Tujuan akhir dari teknologi informasi selain dari informasi itu sendiri secara tidak langsung adalah, pembentukan opini publik, pembentukan sosial budaya dan perubahan perilaku penikmat teknologi tersebut untuk lebih cenderung selalu menggunakan ( ketergantungan ). Teknologi informasi memang memudahkan, dimana dalam hitungan sepersekian waktu saja, sebuah informasi dapat segera kita dapatkan.
Sebenarnya perubahan perilaku sosial atau mempengaruhi perilaku sosial menggunakan teknologi informasi tidak mudah dilakukan, kecuali si pengguna teknologi tersebut memang memerlukan informasi yang dihasilkan dari sebuah teknologi. Jika si pengguna tidak menginginkan sebuah teknologi sebagai penyampai informasi, maka perubahan pola aktifitas, perilaku dan interaksi sosial tidak akan terjadi. Sebagai contoh, penggunaan selular, membaca dan menonton berita di internet dan televisi, menonton film dan sinetron, dan masih banyak lagi. Nah, tanpa disadari, trend setter akibat penggunaan teknologi dalam mendapatkan informasi mengakibatkan perubahan. Yang mungkin dapat dilihat secara kasat mata adalah fashion style ( gaya berpakaian) , lalu cara pandang dan cara pikir. Semula sesuatu hal yang didalam informasi yang mengalir, yang mungkin sebenarnya adalah tabu didalam kultur adat masyarakat, berubah menjadi sesuatu yang biasa karena masyarakat menerima informasi tersebut secara bersama-sama. Berbeda jika informasi yang diterima hanya sampai kepada beberapa individu saja, tentu akan dianggap diluar kebiasaan bagi mayoritas masyarakat lainnya dan dianggap tidak beradat dan tidak beradab. Jadi ada cara pandang yang terbentuk secara massal terlebih dahulu untuk merubah tatanan sosial budaya.
Continue Reading »
Apr
21
2007
Idih judulnya ga nyambung tuh Om.
Sebentar, saya cerita sedikit, nanti baru Anda mengerti :D.
Kemaren sore, bersama teman-teman dari Callista Band (Arie bass, Sigit guitar, Nofree drum, minus Pieter vokal dan Rio keyboard) , Odie, Firwan (Kentung) dan Robby (mantan backing vocal Callista Band) berkunjung ke rumah Andre (drummer Liz Cafe, Batang Garing) atas undangannya dalam perayaan ulang tahun anaknya (anak Andre, duh lupa namanya, btw mat ultah lah ken elae lalaw daras bangang :D). Disana saya bertemu dengan teman lama tak jumpa, Kilat, Dodi, Agus “Ateng” (teman satu kelas waktu SMP doeloe) dan satu teman lagi (lupa tanya nama dia) yang tergabung dalam Staccato Band. Selama acara berlangsung, kami terlibat dalam perbincangan mengenai musik, video clip dan masalah hidup.
Nah, yang menarik disini adalah, dalam acara festival, Callista dan Staccato sangat ketat dalam bersaing. Bahkan kini Staccato sudah terlibat dalam pembuatan musik bersama dengan Saint Locco dari Jakarta dan video clip mereka sudah ditayangkan di tv swasta lokal, BorneoTV, yang digarap oleh kru film Detektif Bojon. Sedangkan Callista sendiri video clip nya masih dalam tahap editing hingga tulisan ini saya buat. Namun, ketika kedua grup bertemu dalam acara ultah ini,yang ada hanyalah canda dan tawa, saling berbagi pengalaman, berbagi ilmu dan teknik bermain musik. Jadi tidak hanya bola saja yang menyatukan dunia, ternyata musik pun bisa.
Salam sukses untuk kalian, Callista dan Staccato. Harumkan nama daerah dengan musik!
Apr
17
2007
Sering, atau saya sendiri bahkan pernah berpikir jika suatu tempat atau daerah sudah tersambung dengan koneksi internet maka tempat atau daerah tersebut dianggap sudah mengimplementasikan TI ( Teknologi Informasi ) atau IT ( Information Technology ). Saya tidak setuju sepenuhnya. Kita kembali ke tujuan awal dari pengimplementasian IT. IT adalah salah satu teknologi, alat atau sarana dalam penyampaian dan pendistribusian informasi, baik itu informasi satu arah maupun informasi dua arah. Data eksternal dan internal diolah sedemikian rupa sehingga menjadi informasi yang layak lalu kemudian didistribusikan menuju target atau pengguna informasi tersebut.
Pada awalnya, data yang ada tertulis diatas kertas, data lisan, dipilih lalu diolah menjadi bentuk virtual yang disepakati formatnya dan dapat dimengerti oleh para pencari dan pengguna informasi itu sendiri. Tidak hanya melulu pembuatan website dengan domain ac.id atau go.id lalu dapat disebut sebagai hasil dari IT yang diterapkan. Tidak! Para pencari dan pengguna informasi tidak selalu dapat melihat data, angka, berbagi data dan file. Informasi yang ditampilkan pun bersifat publik atau umum, para pengguna internal akan sulit untuk berbagi data yang bersifat rahasia untuk penggunaan internal itu sendiri. Resiko bocornya informasi akan lebih banyak dibandingkan jaringan intranet. Bahkan dengan adanya internet, dari hasil beberapa pengamatan saya, justru tujuan awal penerapan IT untuk membantu kinerja organisasi akan menjadi terhambat. Material dewasa adalah konsumsi yang sering menjadi biang kerok dari melambatnya kinerja. Jam-jam kerja menjadi tidak efektif karena sering terlambat masuk kerja akibat bergadang malam. Virus, spam, spyware, dan trojan membuat naiknya anggaran perbaikan data dan program aplikasi. Belum lagi naiknya anggaran pembiayaan listrik dan perangkat keras ( hardware ) karena penggunaan yang tidak semestinya.
Lalu harus bagaimana? Meskipun saya tahu itu adalah hak dari masing-masing organisasi untuk memperbolehkan atau melarang penggunaan hasil penerapan TI, namun saran yang dapat saya berikan adalah :
- Analisa kembali informasi yang ingin anda olah, alur distribusinya dan formatnya.
- Perhatikan anggaran baik dalam jangka pendek dan jangka panjang.
- Evaluasi kinerja organisasi sebelum dan sesudah penerapan TI.
- Perhatikan sumber-sumber internal, seperti fasilitas dan sumber daya manusianya.
Akhir kata, penerapan TI bukan hanya sekedar internet ria, namun untuk membantu diri kita sendiri dalam bekerja dan mengolah data sehingga dapat didistribusikan sebagai sumber informasi.
Apr
17
2007

ihik ihik lucu ya…
Apr
16
2007
Beberapa waktu lalu saya sempat membaca majalah InfoLinux edisi 04/2007, yang membahas tentang bantuan pemerintah kepada unit usaha kecil dan menengah ( UKM ) berupa dana sebesar Rp. 50 juta per UKM bagi UKM pengembang piranti perangkat lunak ( software ) berbasis Free dan Open Source Software ( FOSS ). Dana tersebut rencananya akan diambil dari APBN. Pertanyaannya adalah kenapa baru sekarang ? Padahal sejak lama negara-negara tetangga sudah melakukannya. Bisa kita baca bersama di ebizzasia bagaimana negara-negara tetangga sudah lama melakukan dukungan kepada UKM sejak tahun 2003.
Padahal di Indonesia sendiri ditingkat praktisi dan swasta sudah memulainya sejak tahun 1990-an, akan tetapi di level pemerintah baru memulainya pada tahun 2004 dengan proyek IGOS-nya. Saya melihat tidak ada perbedaan yang mencolok antara varian Linux OS yang ada sebelum IGOS dengan yang varian IGOS. Tidak lain dan tidak bukan karena didalam IGOS sendiri tidak disertakan aplikasi yang mendukung kinerja ditingkat pemerintahan seperti misalnya aplikasi pengelolaan pajak, aplikasi SIMDUK ( Sistem Informasi kepenDudukan ) dan aplikasi-aplikasi lain yang memang betul-betul memusatkan pada pendukung kinerja para pegawai pemerintah baik secara internal maupun eksternal sebagai bentuk pelayanan publik. Ternyata oh ternyata, baru tahun 2007 ini rupanya pemerintah baru berpikir ( terlambatkah ? ) untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi penunjang tersebut dengan memberikan bantuan kepada UKM yang mengembangkan aplikasi berdasarkan FOSS. Mungkin saja, aplikasi-aplikasi tersebut akan dipaketkan bersama dengan IGOS, wallahualam.
Apr
16
2007
Date: Tue, 7 Oct 2003 19:07:16 +0700
From: “Budi Rahardjo” <budi_at_indocisc.co.id>
To: “mujie” <****mujie_at_yahoo.com>
Subject: Re: guestbook
On Mon, Sep 29, 2003 at 09:38:43AM -0700, mujie wrote:
> Om Budi, saya suka dengan tulisan2 artikel Anda. Saya nanya dikit boleh
> khan ya? Saya lihat rata2 orang2 yang bekerja diperusahaan besar yang
> menyangkut IT semuanya sarjana dan lulusan universitas terkenal. Menurut
> Om Budi, ada ngga’ perusahaan yang menerima karyawan di bidang IT tanpa
> harus mempunyai atribut titel atau lulusan universitas tertentu yang
> diterima bekerja, tetapi mempunyai bakat dan kemampuan yang boleh dibilang
> cukup? Karena menurut saya, ada beberapa orang seperti itu,tapi karena
> terkendala dengan biaya maka tidak dapat menempuh jalur pendidikan tinggi.
Setahu saya masalah lulusan perguruan tinggi terkenal atau tidak hanya dijadikan acuan awal saja dalam screening, tapi setelah itu dia tidak menjadi patokan. Semuanya bergantung kepad individu yang bersangkutan (misalnya bagaimana dia berkomunikasi, dapatkah bekerjasama dalam team, bagaimana integritasnya, etika bekerjanya, etos kerja, dsb.)
– budi