May
20
2009
Baru-baru ini telah diadakan 2 “pesta” besar di bumi Tambun Bungai, yang walaupun saya belum sempat menontonnya secara seksama dan berlama-lama, yaitu : Kalimantan Tengah Expo 2009 dan Festival Budaya “Isen Mulang”.
Seperti biasa, Kalimantan Tengah Expo adalah hajatan tahunan yang diselenggarakan oleh Desperindag dan Pemda untuk menampilkan hasil industri baik dari dan luar daerah Kalimantan Tengah agar dapat dinikmati, dilihat atau mungkin menjadi batu loncatan kerjasama antara pihak industri (terlepas itu industri pabrikan atau rumah tangga) dan calon konsumen. Walaupun, mudahan saya salah, saya mendengar selentingan kabar yang kurang sedap, bahwa Expo hanya seperti memindahkan pasar Blauran saja.
Lain lagi dengan Festival Budaya “Isen Mulang”, dimana hampir seluruh komponen budaya adat Dayak yang berada di Kalimantan Tengah ikut hadir, dari kabupaten dan kota di Kalimatan Tengah. Termasuk hadirnya barongsai dari kotingen Kotawaringin Timur. Saya kurang tahu pasti apakah barongsai ini dibawakan oleh saudara-saudara Tionghoa dari Kotim. Hanya saja yang terlihat kurang, kontingen kota Palangka Raya tampil kurang “manis” dan seadanya saja, kalah jauh dibanding yang berasal dari kabupaten.
Saya minta maaf jika tidak bisa menampilkan photo atau visual dari kedua kegiatan tersebut, karena tidak punya kamera hahahaha….
Dec
19
2007
Beberapa hari lalu melalui Sala; seorang wanita muda Dayak yang begitu enerjik, dan Rinting sebagai direktur KPD (Koperasi Persekutuan Dayak) yang penuh daya kreativitas tentang pengembangan ekonomi kemasyarakatan; hari ini dan untuk 2 hari kedepan, aku diminta oleh KPD sebagai pemateri tentang teknologi informasi secara umum dan internet secara khusus untuk pengawas, pengurus, karyawan dan rekanan KPD. Dimana, sebenarnya Ronny T. ikut sebagai pemateri didalamnya, namun karena ketiadaan ruang dan waktu dalam pengembanan tugas kemajuan pendidikan di Palangka Raya, maka sebisa mungkin hal ini dapat kutangani.Kami berjuang dalam bentuk dan posisi yang berbeda, namun tetap dalam satu semangat tentang pembebasan pola pikir dari ketergantungan, penindasan gaya baru dan pembodohan. Pelatihan ini sendiri diselenggarakan di LDP (Lembaga Dayak Panarung) yang diketuai oleh kak Ambu.
Continue Reading »
Jul
30
2007
Suku Dayak tidak mengenal lukisan maupun ukiran seperti layaknya ukiran dan lukisan pengukir dan pelukis dalam kesenian modern atau Eropa yang menggunakan media kanvas, cat dan kuas. Yang ada hanyalah motif yang terlukiskan pada pakaian adat, rumah, kumpang (sarung mandau), kain dan beberapa aksesori lainnya.
Nah, mengenai corak dan motifnya sendiri lebih kepada corak yang diinspirasi kepada alam, seperti matahari, tumbuh-tumbuhan, hewan bahkan manusia. Untuk corak dan motifnya sendiri saya batasi hanya untuk 3 propinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang tergambarkan diatas kain atau baju, dengan tujuan agar rekan-rekan tidak salah dalam melihat motif dan ornamen Dayak. Seperti contoh yang pernah saya dapati adalah adanya beberapa website daerah yang menggunakan ornamen atau corak dari suku Dayak lainnya diluar propinsi.
Continue Reading »
May
10
2007
Seperti kita ketahui bersama, pernikahan adalah upacara sakral dan suci untuk menyatukan kedua jenis manusia dalam satu ikatan.
Pernikahan secara adat pada Dayak Ngaju, seperti yang saya ketahui, bagi sebagian besar masyarakat Dayak Ngaju, baik itu yang beragama Muslim, Nasrani dan Kaharingan, meliputi proses maja misek ( datang bertanya ), manjakah duit ( melempar uang kepada pihak wanita ), dan pakaja manantu ( datang ke tempat calon menantu perempuan ). Pernikahan secara adat inipun dilakukan sebelum diadakannya resepsi pernikahan. Adapun dalam pernikahan ini, terdapat juga sebuah surat perjanjian yang ditandangani oleh kedua mempelai, orang tua atau wali kedua mempelai dan demang atau demang kepala adat setempat yang isinya biasanya dimusyawarahkan secara bersama, baik dari kedua belah pihak mempelai dan pihak Demang atau Demang kepala, yang disebut dengan Surat Perjanjian Nikah atau Surat Perjanjian Nikah, atau dalam bahasa Dayak Ngaju-nya disebut Surat Hapakat Kawin.
Continue Reading »